Minggu, 04 Juni 2017 - 08:58:09 WIB
Komisi E DPRD Provinsi Jatim Gelar Buka Bersama Sekaligus Sadarkan Masyarakat Berpolitik
Diposting oleh : Kang Anton
Kategori: POLITIK - Dibaca: 463 kali

Beritaa1.com Jember : Untuk meningkatkan tali silaturahmi pada bulan suci Ramadhan kali ini berbagai macam cara dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat salah satu yang sering dilakukan yakni buka puasa bersama . Menurut salah satu legislator DPRD Propinsi Jawa Timur Mochh Eksan, dalam kegiatan buka bersama kali ini yakni dengan para abang becak, warga sekitar dan tim dari berbagai penjuru Kabupaten Jember. Buka bersama ini rutin digelar setiap tahun, sebagai momentum bangun silaturahmi dan berbagi dengan sesama. "Saya bersyukur dapat menjalankan tugas sebagai anggota DPRD Propinsi Jawa Timur dengan baik sampai sekarang.

Tak terasa, sudah hampir tiga tahun menjalankan amanah sebagai wakil rakyat. Agenda pemilu sudah di depan mata, baik pilgub 2018 maupun pileg dan pilpres 2019, Katanya Sabtu (03/06/2017) Dalam kegiatan tersebut disampaikan juga kepada masyarakat agar turut memeriahkan pesta demokrasi Agenda pemilu yang paling dekat, adalah Pilgub 2018. KPU Propinsi Jawa Timur telah membuat desain tahapan Pilgub mulai dari Agustus 2017 sampai dengan Oktober 2018. Dan semakin dekatnya tahapan Pilgub, atmosfir politik di Jawa Timur semakin "memanas". Bakan calon gubernur aktif roadshow ke partai dan massa pemilih.

PKB mengambil inisiatif awal dengan menyatakan dukungan kepada Drs H Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur incumbent, setelah didesak oleh 22 Kiai Sepuh NU untuk hanya mencalon satu nama agar suara NU tak pecah. Gus Ipul akhirnya yang ditetapkan oleh PKB dan menyisihkan Drs H Halim Iskandar, MPd, Ketua DPW PKB Jawa Timur sendiri. Gus Ipul dan PKB aktif melakukan roadshow ke partai-partai lain, untuk membangun koalisi. Demokrat dan PDIP, partai yang dimintai dukungan pertama untuk mengusung Gus Ipul tersebut, Sampai, juga bergulir wacana calon tunggal dalam Pilgub yang akan datang. Saya berpandangan, wacana calon tunggal, tidaklah produktif dalam pembangunan demokrasi yang sehat dan matang. Sebab, 32 juta pemilih yang bersebar di 38 kabupaten/kota, dipaksa untuk tidak memilih. Tidak ada alternatif , kecuali one and only incumbent candidate (satu dan hanya satunya kandidat inkumben). Sistem demokrasi dihadirkan sebagai lawan dari sistem monarkhi dan aristokrasi.

Calon tunggal tak ubahnya dengan sistem dinasti dan elit yang totaliter, yang tak menyajikan alternatif pilihan kepada rakyat. Padahal, demokrasi itu sistem yang terbuka bukan sistem yang tertutup. Dimana, setiap warga negara punya kesempatan yang sama untuk dipilih dan memilih. Barangtentu, yang memenuhi syarat sebagaimana diatur oleh peraturan perundang-undangan. Robert W Hefner menyebutkan, bahwa democratic civity (keadaban demokrasi), keterbukaan dan partisipasi. Tafsir dari keadaban demokrasi itu dilihat dari kualitas dan kuantitas keterbukaan dan partisipasi dalam menilai demokrasi tersebut. Mayoritas negara-negara di dunia, menilai demokrasi Indonesia sudah matang. Hiruk-pikut, centang paranang pilgub DKI Jakarta, berakhir dengan happy-ending. Semua pihak menerima hasil pemilu.

Yang menang mau yang kalah, mampu menunjukkan sikap yang kesatria. Demokrasi Indonesia sangat mengagumkan. Tidak pada tempatnya beralasan, wacana calon tunggal, agar eskalasi politik terkendali, tak seperti Pilgub DKI Jakarta yang panas dan berpotensi menimbulkan diintegrasi nasional, proses politik demokratis tak menganggu terhadap pembangunan ekonomi Jawa Timur. Bagaimanapun, Pilgub Jawa Timur merupakan momentum terbaik bagi masyarakat memperoleh pencerahan dari kontestasi politik gagasan dari para bakal calon yang maju.

Sosialisasi dan kampanye adalah saat-saat yang sangat penting dan strategis dalam melakukan "dialog publik". Para kandidat, tim sukses, partai politik, kader, simpatisan dan masyarakat umum berinteraksi dengan intens untuk menemukan gagasan yang terbaik bagi perkembangan dan kemajuan Jawa Timur. Kontestasi politik gagasan akan mendidik warga, bukan hanya tahu terhadap program para kandidat, akan tetapi juga memberikan umpan-balik bagi perkembangan dan kemajuan Jawa Timur. Jadi, capaian demokrasi Indonesia janganlah didown-grade oleh manuver calon tunggal yang tak senafas dengan nilai keterbukaan dan partisipasi dalam demokrasi. Demokrasi bukan sistem khilafah yang tunggal bukan pula sistem one party system ala komunis. Ia adalah sistem terbuka yang menjamin keterwakilan konfiguratif dari kekuatan politik yang plural di Jawa Timur.

Semua elite tanpa terkecuali berkewajiban menghadirkan Pilgub Jawa Timur yang mencerminkan segala kekuatan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Semua bertujuan untuk Jawa Timur lebih baik Pasca Pak De Karwo. Ton




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)